Wednesday, June 5, 2019

Chinese Indonesia Milenial mengalami Dilema Identitas sejak Gubernur Ahok dihukum pidana penistaan agama.



Travel Blog Site




Menurut riset emperical dengan kuantitatif metoda yang ditulis oleh Scientific Research Publishing dengan sampling kepada 30 warga tionghoa Indonesia keturunannya dari  Guandong yang tinggal di Jakarta, Tangerang and Bandung


 1. Self Effacement yaitu warga yang tidak ingin membicarakan identitasnya kepada orang lain atau membuat daya tarik tentang identitasnya Wawancara dengan seorang warga perempuan berkata dalam wawancara seperti dibawah ini "My parents told me that my ancestors came from Guangdong, but I was born here in Jakarta, mingled with mostly pribumi friends. I may look like a Chinese woman, but I didn’t speak Chinese and haven’t been to China before. Yes, we celebrate Chinese New Year every year with all its rituals and traditions, but once again, it is nothing more than respecting the cultural traditions.

 2. Identitas yang masih ditutupi. Warga lelaki, sudah dua generasi di Indonesia berkata bahwa "I guess you have heard about filial piety? It teaches us to engage in good conduct not just to parents, but also to everyone outside the home. It’s not difficult for me to adjust myself to my fellow pribumis’ cultural values, for we have similar basic manners in life; to set up a good society using a virtue of respect for anyone anywhere.

3.  Wawancara dengan warga lelaki ketiga juga menutupi identitas dengan mengambil mentah mentah bahwa apapun sukumu maka normal dan tata cara prinsip indonesia mesti dihormati. Namun di kota besar seperti Jakarta normal suku dan budaya tiap suku yang berbeda beda karena berasal dari daerah yang berbeda beda pula. You and I live in Indonesia. No matter what ethnic we are, the fact is we live here. This is our motherland and we have to respect Indonesia’s basic customs, norms, and cultural principle. There is only one word for every people of Chinese descent who want to live in Indonesia: assimilation. That’s is it. I am myself happy to assimilate.

 4. Identitas chinese indonesia yang digaung oleh media baru, seperti sosial media facebook, twitter and instagram. Warga Jusuf yang telah menonjolkan servis kepada Indonesia dan loyalitas kepada tanah air.

 5. Chinese Indonesia mengalami Dilema Identitas Setelah gubernur Ahok dikenakan pasal penistaan, beberapa generasi Chinese Indonesia mengalami identitas dilema karena generasi ini masih menonton CCTV 2 dan 4 dan Youku. CCTV Indonesia atau CCTV bahasa belum ada kerja sama tidak seperti CCTV - English, French, Arabic, Russian. Pada bulan April 2017, seorang warga chinese indonesia, SHS mengomel ngomel kepada Gubernur Zanul di Changi International Airport, Singapore dan meneriaki Gubernur Zanul seorang "pribumi" Namun tingkah ucapan ini sudah diminta maaf dan diselesaikan Dalam acara wawancara seorang prominan bisnis kayu ST mengatakan tanah dimana ST mengatakan Indonesia adalah bapak angkat sementara China is bapak yang asli. Generasi milenial chinese indonesia dalam tekanan setelah Gubernur Ahok dipenjarakan karena tindakan penistaan. Karena CCTV semakin digemari oleh generasi milenial maka perlu dilakukan kerjasama antara CCTV dengan Indonesia TV seperti CCTV -Bahasa yang mempromosikan chinese indonesia identitas yang lebih bulat. Dengan bertambahnya Chinese Indonesia dan Indonesian belajar di Tiongkok dari tahun ke tahun sejak pemerintahan Jokowi tahun 2017-2018. Ada sekitar 13572 mahasiwa dan mahasiswi yang belajar di Tiongkok. Dengan bantuan China community dan media seperti CCTV - Bahasa atau media yang baru yang dipelopori oleh generasi Chinese-Indonesia itu sendiri maka identitas chinese indonesia generasi milenial dan nantinya akan semakin solid dan didengar lebih ke Nusantara sebagai warga yang melayani dan mencintai Tanah Air Indonesia sepenuhnya  dengan karateristik budaya baru Chinese Indonesia berdasarkan merit and nilai budaya identitas

Laman ini dikutip dari Scientific Research Publishing penulis Enny Ingketria _________________________________________________________________________________
Klik di gambar bila ingin membeli kondominium di Johor Bora Residen


Thursday, September 27, 2018

Strategy Memenangkan Infinity War - Bappenas



Travel Blog Site


Pakai Payeer Online sistim sekarang

Strategy memenangkan Infinity War


Ada 5 Kebijakan  Indonesia yang disarankan oleh badan pembina Ekonomi Indonesia dan Pembicara Forum undangan Bappenas: Proff. Emil Salim dalam Publik Ekonomi Forum: 'Avenger vs Thanos Infinity War' Forum ini diadakan dalam rangka mendukung retorika Presiden Jokowi  dalam pemahaman World Economy atau Ekonomi Dunia di Hanoi yang diadakan oleh  Kepala Bappenas ujar  Ministry PPN Bambang Brodjonegoro.  Selanjutnya dimana Indonesia mengalami deviden generasi muda yang umur usia produktif yaitu  sampai tahun 2045 menurut pakar demografi Ekonomi UI: Turro Wangkaren. Seiring, Rektor Universitas Admajaya: A Presetyantoko telah bergelut dengan pandangan dari iklim luar dari dunia Indonesia yaitu kesempatan dunia finansial, prilaku proteksionisme negara unilateral, fiskal Amerika pro cycle, kebijakan suku bunga 2.5% Bank Federal Amerika Serikat. Pandangan dan skenario situasi itu semata menceritakan keadaan ekonomi global  yang secara  nyata tak berdampak pada sasaran kepada ekonomi dan potensi lapangan kerja profesi di Indonesia dan bagaimana menangani beban pengangguran ke depan dan menambah angka middle class dan menghindari middle income trap yang diranjau oleh kebijakan Ekonomi indonesia dan daya saing lemah dan mistached dalam dunia pendidikan Indonesia.

Selanjutanya Chief Ekonomi Bank Mandiri Anton Gunawan telah mengutarakan balance payment bank mandiri dan akumulasi pada titik lemah dan vulnerable berupa Current account yang dimana import naik cepat di quater terakhir akhir ini dan Kebijakan FDI yang tidak mendapatkan pertambahan manufaktur sektor yang berdampak pada komponen  kecuali import dari kontruksi konsumsi infrastruktur pemerintah yaitu dimana impor gula pasir dan garam yang berkala  naik karena menurut Menteri Perdagangan karena pabrik gula yang sudah lama operasi produksinya. Pertanyaan presiden cabut kewenangan Menteri Susi soal Import garam dan bagaimana Indonesia bisa memberdayakan Industri dripping irigasi dan desalinasi air laut jadi air tawar ke irigasi sampai ke sawah sawah tanpa beban energi yang besar. Inilah teknologi yang Indonesia perlu terapkan dan implementasikan. Bila 70% dari persediaan air di dunia untuk agrikultur. The dripping irigasi dengan memproses 15% air yang ada di bumi  untuk irigasi maka produksi air untuk minum dan sanitasi akan  bisa double pula.  Dripping irigasi  didasari dari bahasa ibrani tikkun olam yang artinya memperbaiki dunia. Chief Ekonomi Bank Mandiri, Anton Gunawan melanjutkan pembicaraan dengan servis sektor freight dan logistik masih minimal dan travel tourist perlu perhatian untuk paket konektifitas. Strategi diplomasi bilateral trade Indonesia masih tidak agresif and kurang dalam menerapkan national  production network (Industri Automatif  Jepang yang masih melihat global japan productiin) Sementara Foreign Direct Investmen dengan capital account 612Billions USD yang bisa dikomposisikan kepada kapital nilai sumber daya manusia dan daya saing global indonesia  belum diterapkan. Sementara sekitar negatif 6 billion $USD yang terhitung dari data bank mandiri apakah telah dikapitalkan dalam bentuk penghasilan pekerja profesi atau cuma mengendap di bank saja dan solusi levy pajak yang diterapkan. Inilah ide Pakar Chief Economy bank Mandiri.

1.  Pola kebijakan "easy-in, easy out" perlu belajar dari kebijakan Korea dengan " sistim levy pajak yang selektif terhadap modal masuk.
2. Galakkan kebijakan perdagangan dengan ASEAN plus 3 (China, Korea, Jepang) bersama sama mengembangkan " Kredit Guarantee Investment Facility" terutama untuk infrastruktur.
3. Intensifikasikan (ASAR Australia - Selandia Baru, Asia, Uni Eropa dan Afrika)
4. Dorong inovasi dan modal social dalam negeri.
5. Pelihara persatuan dan kesatuan bangsa dalam tahun pemilu.

Indonesia tidak perlu berlebihan dalam memandang kontras di dunia ekonomi sementara pekerjaan dapur sendiri kita yang terberat adalah beban pengangguran dan angka daya saing dan produktifitas. Dengan pertambahan generasi milenial dan generasi A sampai tahun 2045 seharusnya memberikan sumber daya manusia yang berdampak hal hal positif namun bila pemimpin ekonomi sekarang yang tidak bisa melihat potensi sumber daya manusia ini maka middle income trap dan Indonesia hanya terpetakan oleh profiling Nasional Ekonomi Konsumsi.

Saturday, September 15, 2018

Sosialisasi Redesain Universal Service Obligation Seminar Publik



Panduan Pengarahan sosial Undang Undang ITE telah dirumuskan dari sumber referensi  bisa dibaca dibawah ini rumusannya dari kompas.com.

UU ITE Terrorisme (termasuk ujaran kebencian, fitnah, posting SARA yang menyebabkan kerusuhan seperti Kasus Meliana yang menyebabkan  terjadi kebakaran vihara, radikal ormas yang ingin merusak persatuan dan kesatuan bangsa serta memfitnah nama baik seseorang atas tindakan yang tidak fakta dan fitnahan. Anggota kehormatan  Komisi 1 DPR Charles honoris yang adalah anggota legislator yang telah menjembatani peran DPR dengan para pebisnis terutama pelaku bisnis turis dan media  di acara pembukaan https://eljohnnews.com

Lebih lagi, DPR Charles  telah ikut serta dalam upaya mencegah penyusupan terorisme terhadap persatuan dan kesatuan dengan mengadakan sosialisasi kepada warga jakarta atas sosialisasi sangsi hukum terhadap setiap warga atas penyebaran berita hoax SARA dan fitnah di aturan UU ITE  seperti  tindakan kebencian sosial  dan berita hoax bohong di luar fakta atas partai dan asosiasi demi menemukan jalan yang jujur dan benar dan panut hukum. Peperangan melawan berita hoax (tidak jujur dan fakta dan kebencian)  terhadap  DPR Charles Honoris juga telah disosialisasikan hari ini di Novotel, Chandranaya Jakarta 15 September 2018

Terutama berita hoax dan fitnah  atas SARA, warga juga  bisa dengan mudah tidak ikut serta dalam  viral, like dan comment yang dimana mesin sosial media bekerja secara echo chamber (ruang bergemah)  himbau Indriyanto Banyu Murti.  Untuk kalangan milenial .  Wakil Ketua Digital Kreasi  ini  telah membuka  situs infografis di indonesiabaik.id  dan UU ITE  yang telah diterapkan dan warga dapat  melaporkan seperti yang telah dicontohkan oleh Charles Honoris.

Komisi 1 DPR telah berencana memperkuat pengamatan terorisme lewat jejaring internet dan  berencana menambah anggaran untuk memperkuat kesatuan and persatuan bangsa Indonesia.  

Sebagai warga negara Indonesia, kita harus membangun persatuan dan kesatuan dengan tidak terlibat dalam viral dan membagikan informasi yang hoax (fitnah dan tidak benar). Peristiwa Tanjung Balai terhadap ibu Meliana telah berdampak pada  kerusuhan pembakaran tempat ibadah yang dilakukan kepada generasi muda dan telah ditebarkan oleh pecundang yang bermukim di Jakarta,  seperti dilaporkan kejadiannya kebakaran vihara oleh CNN. Lebih lagi berita hoax yang bersumber dari film dan viral media sosial terhadap horingya yang telah memicu kebencian terhadap golongan tertentu telah menyebabkan rakyat gampang terpancing issues yang tidak tau sebenarnya. Maka Sosialisasi ini memberi kesadaran bagi kita untuk membaca sepenuhnya atas meme sosial media sehingga tak mudah terpancing kepada kebencian dan kerusuhan sesaat kepada sarana publik. 

Komisi DPR 1, Charles yang telah dua kali melihat dan mengamati Suriah menghimbau supaya warga Indonesia dengan hasutan terorisme dan provokasi memporak porandakan   falsafah bangsa  telah berakibat seperti di Suriah. Untuk itu komisi 1 siap memerangi terorisme dengan alat kolaborasi tingkat Badan Inteligen Negara, Kepolisian dan TNI.  Lebih lagi komunitas Perserikatan Bangsa Bangsa  pada resolusi 2129 tahun 2013 dan telah yam bersepakat mendeklarasikan   ancaman teroris perdamaian dan keamanan dunia karena aksi terorisme . Juga dalam Resolusi PBB 2354 tahun 2017 dimana sedang dibentuk pedoman untuk mencegah anti narasi terorisme. Apa peran Indonesia dalam ikut serta menciptakan bimbingan pedoman atas kejadian teroris yang telah terjadi di Indonesia yang rawan atas kesatuan dan persatuan bangsa. Dan Apa peran DPR dalam menjangkau masyarakat dan perusahaan goofle indonesia dan facebook dalam memberantas narasi terorisme and ormas perusak persatuan bangsa? 

Tuesday, September 11, 2018

What is the first sign of End Times in Bible - Apa tanda pertama Akhir zaman?

What is the first sign of End Times in Bible - Apa tanda pertama Akhir zaman? 

Banyak tanda tanda akhir zaman yang dipikirkan oleh pemuka agama? Ada yang mengatakan bencana, kiamat atau kematian seluruh manusia. Di zaman sekarang ini banyak yang mengatakan fake new, berita bohong atau tipuan, atau bahkan mengatakan makin banyak orang orang di prosekusi oleh hukum agama. Apakah anda tahu apa tanda pertama dari Akhir Zaman menurut Roh Tuhan Sendiri di Alkitab?

Lalu apakah anda sudah tau, sudah berapa banyak Alkitab ditranslasikan ke dalam bahasa dunia. Menurut SIL International, ada 2508 alkitab sudah ditranslasikan sementara ada sekitar 6909 bahasa yang berbeda menurut Ethnologue catalog bahasa dunia. Lalu bagaimana agama yang mengautentikasikan satu bahasa sebagai tanduk. Apakah seluruh manusia bisa untuk diberitakan bila harus dalam satu bahasa yang asli. Apakah agama itu bisa tersebar ke seluruh dunia? Menurut Alkitab di tulisan

Matius 24:14 TB


Dan Injil Kerajaan ini akan diberitakan di seluruh dunia menjadi kesaksian bagi semua bangsa, sesudah itu barulah tiba kesudahannya yaitu "Akhir Zaman"

Inilah tanda pertama awal akhir zaman ketika alkitab telah ditulis dalam seluruh bahasa manusia. Apakah kita sudah melihat tanda tanda pertama awal dari akhir zaman? 

 Tur ke Yordania dan Israel

Saturday, September 8, 2018

Seni Perang (Sun Tzu) adalah antologi kata kata yang menembus dan menata strategi peperangan melawan kesenjangan sosial dalam menata falsafah bangsa



Travel Blog Site





Seni Perang adalah kisah Asli pembelajaran militer sejak musim Semi dan Gugur perioda 771 sampai 476 sebelum Masehi. Pembelajaran ini dituangkan dalam kanca asli militer Tiongkok yang di gurui oleh seorang Sunzi. Ada 13 Bab. Setiapnya ada aspek sosial kesenjangan dan bagaimana cara menanganinya . Hampir 1500 tahun telah disusun oleh tulisan kumpulan kata kata indah berupa puisi yang disebut Tujuh Klasikal Militer oleh Kerajaaan Shenzong dari Dinasti Song di masa 1080. Akhir akhir ini kumpulan kata kata indah ini adalah strategis yang sangat berpengaruh.

Moctar Riadi dalam seminar "Builds the Cities" memperkuat kepada generasi Y and milenial bahwa peperangan kesenjangan sosial yang terjadi di Indonesia dan peperangan kesenjangan karena sosial dan upaya menata falsafah bangsa ke depan seperti yang diutarakan oleh gubernur Anies Baswedan dimana jumlah manusia yang pendapatan sebulan dibawah Rp 500.000 ada sekitar 384 ribu jiwa dan hampir 1 juta warga jakarta tidak memiliki tempat tinggal atau rumah susun. Bagaimana ini bisa diperangi dan diselesaikan. Apakah dengan menakut-nakutkan lawan politik bisa menyelesaikan masalah kesenjangan sosial? Apakah minoritas Indonesia seperti  negari Wu yang lebih kecil bisa mengalahkan negeri dan tentara yang lebih besar? Mari baca dan klik referensi seni peperangan dengan siasat seni peperangan berikut dibawah ini. 

Banker Moctar Riadi dalam seminar "Builds the Cities" telah memakai siasat seni peperangan ini ada 5 unsur yang terpenting dalam memerangi masalah atau  peperangan. Satu yang utama adalah Tao yaitu Moral dalam menjalankan krisis peperangan. 

Banker Moctar Riandi juga mengutarakan dalam seminar diatas sebuah unsur yang lain adalah bisa menerima dari manusia yang mengakui kegagalannya dan tau apa akar kegagalannya itu. Banker Moctar memberi contoh menantunya Sri Tahir yang meskipun telah gagal lebih dari tiga kali namun Moctar tetap menerima dan merangkulnya. Moctar berprinsip Sun Tzu yaitu  Meskipun telah gagal namun yang gagal telah memahami akar kekagagalannya dan mau maju memperbaikinya. Inilah Unsur Sun Tzu yang lain. Bagaimana dengan gubernur Anies yang mau memerangi kesenjangan pendapatan warga jakarta dan memerangi sumur yang melanggar perda yang telah digali dan disepanjang gedung gedung tinggi area sudirman dan Thamrin dan berencana memperbaiki ruang tanah trotoar tanah dengan tata ruang pipa, kabel dan aliran selang dibawah tanah itu yang bisa transparen dilihat pejalan kaki dan menjadikan trotoar sepanjang jalan itu sebagai tempat multifungsi yaitu tempat edukasi tata ruang bawah tanah. Bagaimana gubernur Anies bisa berkolaborasi dengan warga dan instansi institusional dan penguasaha profesi Jakarta.  







 
Pesan buku The Art of War by Sun Tzu Sun-Tzu: The Art of Warfare: The First English Translation Incorporating the Recently Discovered Yin-ch'ueh-shan Texts

Dream as Million Stars at Night for Parent who Love Travel Tips
Click Here to Join Us at Travel Blog Makes it Ease
Parent to Dream with kid often Join this as life time member and annually 

Friday, August 10, 2018

Sandiago Uno adalah Generasi Baru X dan Generasi Y, nya adalah Agus Harimurti Yudhoyono adalah sosok pemimpin baru.


Oposisi dari pemerintah Jokowi telah hadir dengan pilihan dan deklarasi pada pemimpin generasi dengan wajah dan rupa baru di ajang kontestasi Pemilu 2019-2014


Indonesia sedang mengalami revolusi mental dan pergantian wajah dan rupa visi pandangan yang baru di pemerintahan baru 
2019-2024.

Menurut Grace Natalie dari Ketua Partai Solidaritas Indonesia  telah mengungkapkan pandangan atas pasangan calon pendukung Jokowi. dan "Apapun pilihan Pak Jokowi kami siap mendukung" kutipan dari CNN dan berlanjut bahwa urusan dengan anak muda tidak terlalu problem karena Presiden Jokowi telah membentuk channel konten kepada anak Muda.  Namun apakah konten yang dibentuk Jokowi telah menjangkau generasi Millenial, generasi X and Y yang notabenenya ingin ikut serta dan mendengar aspirasi rakyat dan memimpin anak muda.

Demography generasi Indonesia  32 %, adalah generasi Millenial dan berikutnya generasi X dan generasi Y ada sekitar 55% dan sisanya 13% generasi pre baby boomer dan generasi baby boomer yaitu lahir dari tahun tahun sebelum 1946 dan 1946-1964. Calon Wakil President Maruf Amin lahir di tahun 1943 yaitu generasi pre babby boomer.


Prabowo - Sandiaga Uno dalam press deklarasinya telah memberikan kesempatan kepada pemimpin generasi X  Sandiago Uno atau generasi Baby Bust Y yang penggerak partai demokrat Agus Harimurti Yudhoyono untuk mendengar aspirasi warga Indonesia.  Dua revolusi mental dan wajah dan rupa pandangan Y generasi  berbicara dengan ungkapan aspirasi " Merdeka, Visi kepada pemerintahan yang kuat di kemandirian bangsa, membangun ekonomi dan membuka lapangan kerja terutama lapangan kerja profesi, memastikan harga terjangkau dan pangan dan percepatan pembangunan dengan pemerintahan yang bersih" 

Klik disamping ini membaca Tale of  Accelerated Culture Generation X 
A
Generation X: Tales for an Accelerated Culture

Tuesday, July 10, 2018

Indonesia books with cover title of "New World" Order



Travel Blog Site




There are  more than 6 books about Indonesia New World Order has been published and sold in international market. You can read and buy right now  by clicking for these 6 books   on this article post. The other book  is Indonesia with  "New World " Order that is not well response to young generation of Jokowi fans and supporters


A book is judged by its cover (Soft and Hard) 
both alike the same as on the above picture

When CSIS has providing  a public forum as part of Jokowi public  think thank and this event is 

  launching a new book title Indonesia in the New World. This is not the first time a book about Indonesia is written with New "World" Order. Unfortunately. Three of the new book chief Editor " Arianto A Patunru, Mari Pangestu, M Chatib Basri has overlooked the book and decided the cover as the above book launching to public and to the world of Australia National University (ANU)

The launching of the particular book is part of the series of  public forum Hadi Soesastro Policy Forum at  CSIS Pakarti Building. The forum is attended with full seats and majority is heard by  public policies students of  University Indonesia  that  listening and learning  the comprehensive of Economy Downside of Jokowi Policy Making. 

For example :
1. The policy of "Feeding the Bangsa" and Food Sovereignty and state control on food leading to ambivalent policy
2. Development Resource of Nationalism that are driven controlled by the state
3. Contrast Perception of global economy between young generation better educated , satisfied with economic state for Jokowi and elites that has more access  to information less positive (according to 
Senior Fellow at Centre for Strategic and International Studies  Mari Pangestu) 
4. The rise of anti globalisation and distribution of poverty  and inequality in Indonesia has not address reduction and equality (according to Professor of University Pajajaran A Yusuf)
5. International trade has not been conductive to increased female labor participation rate as in 1990 but the increased more on commodity.
6. Large companies in Indonesia only maintain status quo  but Small and Medium Companies are getting hurt and creation of Small and Medium New Enterprise has  disturbing  effect to the large companies and status quo  that optimistic towards more open economy (according to Manggi Habir,  Advisor at The Indonesian Banking Restructuring Agency from 2000 to 2001)

The striking statement  on the cover of the book voice by  Prof. Mari Elka Pangestu CSIS  has received outstanding response and without analysis impact of commercial market. According to  the audiences and this blog writer that  the cover of the book must be subject of copyright and would receive negative image of  truth Civil Leadership of Jokowi Indonesia Era.   The comprehensive contents of the  book does not strike and catch the eyes of   ordinary audiences particularly by observing   on the cover book that portrait Military Might and Messy of Jokowi personal shirt  

When international buyer and enthusiastic  participants  for seeking Indonesian policy making, they  can not  comprehend the contents and commentaries by Kompas that the  book is long and  boring  and comprehensive of economy analysis particularly distribution of poverty that is taken from random big data. It does not address the particular area of need to develop for economy as the result of inequality of poverty development.  More  Jokowi Alone in  New World Order but in aligned with reality that he worked with Staff President on Nationalism, Globalization and Sovereignty Economy Policy but  portrait of him alone standing and look cynical face on military Imam Bonjol vessel. It does not represent daily works of Jokowi leadership.  The cover for the book is representative of military navy vessel and power but Jokowi alone  nor based his influence from military leadership.

 President Jokowi is not the aggressive figure hardcore that  counter balance on  South China Sea claimant area of the sea.    nor does Jokowi is the right leader figure of bluffing and negotiate China Navy Might in South China Sea as the result of full claimant  China of South China Sea.  The latest comment is that  the cover does not display the area water of south China Sea (Natuna Island) nor does the cover display photo of  the water market line within South China Sea.   Ordinary and international students of prospect political reader and buyer  can not relate and see  the biggest picture  of the book only by observing the book cover.  

 Jokowi was a mayor of Solo Town in Indonesia. Jokowi is a leader  that is  brave enough  to fire early aggregate leader of General Military Gatot that prematurely exposed himself  on political exposure while  he is  on the seat of throne Indonesia army TNI (Tentara National Indonesia). 
A  negative response of portrait of Jokowi in the cover book illustrating  "white shirt  hang out the pant"  and book cover of Jokowi is a bad personal attack to publicity on how  a leader of Indonesia dress up and was displayed by CSIS neutral academic institution and send negative image toward larger mass crowded of "GantiPresident" propaganda where the media anti- Jokowi rhetorical and cynical in Indonesia. Posture of  messy Jokowi white shirt is not instrument to critic to his economy policy.  for example the book critic on the substance content of  economy ambivalent  policy and economy advisors seem targeting  implementing toward the state control economy policy.  This policy making has  impacting nothing to change but not developing  of macro economy by largest companies in Indonesia for new world particularly hurting  new job creation and according to Anton J. Supit Chairman of Apindo that unemployment in Indonesia tracking is  as the result of semi-job downsize and not able the policy in making  new manufacturing for new job creation  in the stage of Indonesia in  New World.





An in-depth study of the militant Islamic Laskar Jihad movement and its links to international Muslim networks and ideological debates. This analysis is grounded in extensive research and interviews with Salafi leaders and activists who supported jihad throughout the Moluccas.



From the Indonesian Republic’s onset, there has been some form of military participation in political life – the more significant and interesting aspect of the Indonesian Army’s distinctive history. Volume 2 in this three-volume set covers the assassination of army leaders on October 1, 1965, the massacre and imprisonment of hundreds of thousands of suspected communists, elimination of the Indonesian Communist Party, the ouster of President Sukarno, General Soeharto's rise to power, consolidation of the New Order military regime, the suppression of all forms of free expression and dissent, the brutal invasion and occupation of tiny East Timor, separatist insurgencies on the periphery of the archipelago, General Benny Moerdani's reign as the country's second most powerful man, Soeharto's turn toward Islam and his increasingly desperate efforts to preserve power at all costs during the late-1990s – setting the stage for the nationwide reformasi movement, the May 1998 riots and Soeharto's abdication – the subject of Volume 3. Written in a journalistic style, these three volumes provide readers insights into Indonesian culture and help them understand why soldiers of the Indonesian Army have behaved the 
way they do – often in ways, from a western perspective, that must be considered less-than-honorable.
The Lontar Anthology of Indonesian Short Stories is the first definitive anthology in English of Indonesian short stories from the twentieth century. These two volumes, featuring a selection of 109 of the most popular and influential works of short fiction, span the entire century, from pre-Independence Indonesia to the year 2000, and include many new translations. The editors drew from a wide cross section of Indonesian short story writers with respect to ethnicity, gender, class, and ideology. Volume 2 presents 61 stories dating from the founding of the New Order government that followed a national bloodbath in 1965 to just after its end in 1998 and the dawn of the second millennia. Along with the rise of “newspaper-length short stories” and a dwindling focus on realism, this period was marked by numerous changes in style and form, especially in the last decade of the century when authors, concerned with the militaristic nature of the central government, began to adopt a much more direct approach
.
This book looks at fatwa in Indonesia during the period following the fall of President Suharto. It is an in-depth exploration of three fatwa-making agencies-Majelis Ulama Indonesia, Lajnah Bahth al-Masail Nahdlatul Ulama, and Majelis Tarjih Muhammadiyah-all of which are highly influential in shaping religious thought and the lives of Muslims in Indonesia. Rather than look at all the fatwa that have emerged in the period, Pradana Boy ZTF focuses on those that have strong repercussions for intra-community relations and the development of Indonesian Muslims more generally, including fatwa pertaining to sectarianism, pluralism, secularism and liberalism.


Krishna Sen describes the background and present-day Indonesian film industry and explores how the country's society and history are represented in its film culture. From a critique of four films, she concludes that Indonesian cinema privileges the military against the civilian, the middle class against the popular classes, and men against women. Backed by careful documentation from cinema literature, this is a radical, in-depth perspective on film - its implications, its vulnerability to manipulation and its artistic and propagandist value.